Potret Pendidikan Indonesia Di Tengah Perkembangan Teknologi

Jakarta -
Berdasarkan laporan PISA (Programme for International Student Assessment) peringkat pendidikan Indonesia di dunia bertengger di urutan 62 dunia di bidang sains, 63 dunia di bidang matematika, dan 64 dunia di membaca. Masih di bawah Singapura, Vietnam, dan Thailand. PISA sendiri merupakan survei yang menguji kemampuan siswa berusia 15 tahun untuk tiga bidang, yakni membaca, matematika, dan sains. Survei ini diinisiasi Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD).
Dalam sambutannya di peringatan Hari Pendidikan Nasional yang dirilis di situs resmi Kemendikbud, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendi, mengklaim mutu pelayanan pendidikan di Indonesia sudah semakin baik dalam beberapa tahun terakhir ini. Dalam sambutannya ia menyoroti pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dilakukan pemerintah merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pelayanan pendidikan.
"Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memberi perhatian khusus untuk pendidikan di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal. Bahkan, Kemendikbud memberi perhatian khusus pada pendidikan bawah umur Indonesia yang berada di luar batas negara,seperti anak-aak keturunan Indonesia yang ada di Sabah dan Serawak, Negara bab Malaysia," ujarnya.
Pemerataan infrastruktur dan SDM
Senada dengan Muhadjir, Rosdewi Malau, salah satu guru di SMPN 20 Jakarta, juga mencicipi hal yang sama. Ia beropini untuk ketersediaan infrastruktur dan kemudahan berguru mengajar di kota-kota besar sudah memadai. Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan infrastruktur dan ketersedian SDM di daerah-daerah terpecil demi meratanya mutu pendidikan di Indonesia.
"Kalau di kota sendiri sih sudah bagus,katakanlah daerah-daerah yang sudah terjamah teknologi dan kemudahan yang ada saya rasa sudah bagus. Ya itu ia SDM-nya juga harus diperbaiki, terutama di tempat dengan cara ya itu tadi, gajinya mungkin, fasilitasnya, semua aspek diperhatikan harus," ujar Rosdewi ketika diwawancarai DW Indonesia.
Dengan tuntutan perkembangan zaman yang cepat, guru yang sudah mengajar dari tahun 1984 ini, sadar betul para pendidik harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut. Apalagi dari sisi teknologi, kalau dibandingkan dulu dimana guru harus mengajar dengan metode konservatif, sebut saja papan tulis, kapur, buku-buku pelajaran yang tebal, namun kini dengan kehadiran teknologi menyerupai komputer, proyektor, dan internet dirasanya sangat efektif dalam acara berguru mengajar. Namun Rosdewi menekankan faktor pengawasan orang bau tanah di rumah juga menjadi hal mutlak, apalagi di usia-usia tersebut siswa sangat rentan terhadap dampak luar. Sehingga dampak teknologi ataupun internet tidak menunjukkan dampak yang jelek terhadap perkembangan berguru siswa.
"Kita sering bicara dengan orang bau tanah (siswa), kita tidak mungkin menghambat teknologi itu. Tapi bagaimana cara pengawasannya, jadi mestinya orang bau tanah dari rumah harus tahu apa yang dibaca anaknya, apa yang dilihat, alasannya ialah kalau kita mau menutup teknologi ini juga malah menghambat, bawah umur ini kan akan berkembang, ga kita saja mereka kan perlu juga, perlu tahu. Cuma ya berdasarkan saya pengawasan dari rumah harus lebih ketat," jelasnya.
Seperti diketahui, demi menyongsong Revolusi Industri 4.0 pemerintah mulai menggeser fokusnya dari pembangunan infrastruktur ke pembangunan sumber daya manusia. Muhadjir pun beropini perkembangan teknologi yang semakin canggih sanggup menghipnotis cara berpikir, berperilaku, dan huruf siswa. "Peserta didik harus mempunyai huruf dan jati diri bangsa di tengah perubahan global yang bergerak cepat," ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.
Dituntut berpikir komputasi
Kurie Suditomo, pendiri codingcamp.id sebuah perusahaan yang mengajar training digital bagi anak usia 9 hingga 17 tahun, menilai di tengah majunya teknologi, Indonesia masih sangat kekurangan sumber daya insan di bidang sains teknologi maupun engineering art. Maka dari itu codingcamp.id hadir untuk menjawab kegelisahan tersebut. Menurut Kurie, sangat penting bagi bawah umur Indonesia unutk memilah informasi berbasis digital yang datang,
"Itu sangat bekerjasama dengan kemampuan kecerdikan seseorang untuk memahami sebuah masalah, memecahkan problem dan lain-lain. Nah sebetulnya (berlatih) coding bisa jadi jalan keluarnya, kenapa? Karena pelajaran ini sangat nyambung dengan generasi sekarang, bebasis visual dan bawah umur suka alasannya ialah lagi in banget kan main games, bawah umur kita kan sudah digital native," terang Kurie ketika diwawancarai DW Indonesia.
Pesatnya kemajuan teknologi cukup umur ini, ia berharap sanggup menunjukkan pelayanan pendidikan bagi mereka yang masih tertinggal. Menurut Kurie materi konten pembelajaran secara digital sangat banyak namun masih banyak yang belum membiasakan itu, tidak hanya di Indonesia namun juga di luar negeri. Berlatih coding bisa menjadi alternative pendidikan di masa globalisasi ini.
"Imagine aja kalau bawah umur sekolah contohnya middle-upper mungkin sih gampang, ia sudah full keyboard dari kecil, tapi bagaimana bawah umur di kampung yang pakai smartphone sekali-sekali itu juga cuma bisa main, terus lihat laptop keyboard ga pernah, terus tiba-tiba pada ketika mereka sudah kerja mereka dibutuhkan sudah bisa mengetik kan mustahil," tambah Kurie.
Menurutnya sistem pendidikan di Indonesia mempunyai beban yang cukup besar, maka itu harus diimbangi dengan penyaluran minat penerima didik biar mereka tetap bahagia dalam acara berguru mengajar.
Pada tahun 2019 sendiri, pemerintah telah mencanangkan anggaran pendidikan sebesar 492,5 Triliun Rupiah, dengan rincian 163,1 T untuk pusat, 308, 4 T untuk daerah, dan 21 T untuk pembiayaan. Angka ini tumbuh sebesar 11,4 persen dibanding anggaran tahun 2018. Maka dari itu, pemerintah diharap bijak dalam memakai anggaran tersebut, selain untuk keperluan bersifat administrative melainkan untuk kualitas materi pembelajaran.
Sama menyerupai Rosdewi, Kurie juga berharap upaya pemerintah untuk meratakan mutu pendidikan di Indonesia baik dari infrastruktur dan SDM sanggup terwujud demi menjawab tantangan global di masa yang akan datang, biar tujuan negeri ini menyerupai yang tertulis dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa sanggup tercapai.
Sumber detik.com