Kelelahan Sampai Darah Tinggi Kambuh, Ketua Kpps Di Mojokerto Meninggal
Subarji dan istri (Foto: Enggran Eko Budianto)Mojokerto -Ketua KPPS TPS 07 Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Subarji (54) meninggal akhir penyakit darah tingginya kambuh. Dia menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan ke rumah sakit.
Hingga siang ini kerabat Subarji masih berdatangan ke rumah sedih di Sumolepen gang Sawah No 20, Kelurahan Balongsari. Sang istri Winarni (57) terlihat sibuk menyambut para tamu yang berdatangan. Sebuah tenda masih terpasang di depan rumah sedih untuk persiapan program tahlil malam nanti.
Winarni mengatakan, suaminya meninggal Kamis (2/5) sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu Subarji dalam perjalanan dibawa ke RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto memakai ambulans.
"Bapak mengeluh sakit di kepala dan sesak nafas. Almarhum punya sakit darah tinggi," kata Winarni kepada wartawan di rumah duka, Jumat (3/5/2019).
Sebelum meninggal, Subarji bertugas sebagai Ketua KPPS di TPS 07 Kelurahan Balongsari. Menurut Winarni, semenjak pensiun dari pegawai pabrik, suaminya telah 4 kali bertugas sebagai penyelenggara Pemilu. Subarji juga aktif di banyak sekali acara lingkungan daerah tinggalnya. Sehari-hari almarhum berjualan sembako di rumahnya.
"Bapak selalu menjadi ketua KPPS, baik ketika Pemilu maupun Pilkada. Sudah empat kali," ujarnya.
Subarji sudah setahun lebih mengidap sakit darah tinggi. Kakek dua cucu ini rutin meminum obat yang didapatkan dari puskesmas di erat rumahnya. Oleh alasannya ialah itu, beliau masih mampu menunaikan tugasnya di TPS 07 pada Pemilu 17 April yang lalu.
Sebagai Ketua KPPS, lanjut Winarni, Subarji sibuk menyiapkan pemungutan bunyi semenjak 16 April 2019. Mulai dari menata TPS yang menempati gedung pertemuan S Ramelan, hingga menciptakan seragam batik untuk petugas KPPS.
"Karena hari itu ada kunjungan Bu Khofifah (Gubernur Jatim) di TPS tersebut, bapak melalukan persiapan semenjak tanggal 16 sore. Saat itu bapak mengeluh lelah lantaran pulang malam," terangnya.
Kendati begitu, Subarji tetap bertugas menyelenggarakan pemungutan bunyi keesokan harinya. Pria bertubuh tambun itu berangkat dari rumahnya semenjak pukul 05.30 WIB.
"Pada 17 April selepas magrib bapak sempat pingsan lantaran kelelahan. Saat itu proses penghitungan bunyi belum selesai," ungkap Winarni.
Meski sempat pingsan, kata Winarni, suaminya masih melanjutkan tugasnya untuk menghitung perolehan bunyi Pileg dan Pilpres di TPS 07 Kelurahan Balongsari. Menurut dia, Subarji tak sempat ditangani oleh petugas medis. Almarhum hanya istirahat sejenak, kemudian melanjutkan tugasnya sambil duduk. Bahkan, Subarji gres pulang dari bertugas Kamis (18/4) sekitar pukul 03.00 WIB.
"Saat pulang itu bapak mengeluh kelelahan, sambil bilang jikalau tidak mau lagi menjadi petugas KPPS," jelasnya.
Setelah sempat tidur, 18 April 2019 Subarji memeriksakan kesehatannya ke puskesmas di erat daerah tinggalnya. Menurut Winarni, rupanya tekanan darah suaminya sedang tinggi. Subarji pun meminum obat yang beliau dapatkan dari puskesmas tersebut.
Sekitar 15 hari setelahnya, kondisi kesehatan Subarji memburuk. Sebelum meninggal, beliau sempat mengeluh sakit kepala dan sesak nafas. Nyawanya tak tertolong ketika keluarga membawanya ke rumah sakit.
Jenazah Subarji telah dimakamkan di TPU Losari, Kamis (2/5). Wali Kota dan KPU Kota Mojokerto sempat bertakziah ke rumahnya. Namun, hingga ketika ini pihak keluarga belum mendapat pemberian dari Gubernur Jatim.
"Santunan dari Gubernur belum ada," tandas Winarni.
Saksikan juga video 'Analisis KPU Soal Penyebab Anggota KPPS Bertumbangan':
Sumber detik.com