5 Hari Hidup Di Tengah Banjir, Warga Di Mojokerto Mulai Terjangkit Penyakit

5 Hari Hidup di Tengah Banjir, Warga di Mojokerto Mulai Terserang PenyakitPetugas campuran bantu warga/Foto: Enggran Eko Budianto

Mojokerto -Tak terasa sudah 5 hari warga Kabupaten Mojokerto hidup di tengah kepungan banjir. Selain mengganggu acara mencari nafkah, banjir juga mengakibatkan sebagian warga Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, terjangkit sejumlah penyakit.

Banjir yang merendam Dusun Tempuran dan Bekucuk, Desa Tempuran hingga siang ini masih jauh dari kata surut. Ketinggian air di jalan-jalan kampung mencapai paha orang dewasa. Sedangkan banjir setinggi 30-40 cm masuk ke rumah-rumah penduduk.

Di tengah teriknya matahari awal Ramadhan ini, tak tampak kesibukan warga setempat mencari nafkah. Hanya terlihat sejumlah anak kecil asyik bermain di tengah jalan yang tak lagi nampak akhir ditelan banjir.

Sementara para orang cukup umur hanya sanggup duduk santai di teras rumah. Itu pun tak semua rumah warga nampak berpenghuni. Sebagian lainnya terlihat sepi alasannya yaitu ditinggal pemiliknya mengungsi. Tak hanya permukiman, sawah dan kebun penduduk juga terendam banjir.

Warga Dusun Tempuran Supi'i (40) mengaku enggan mengungsi demi menjaga barang-barang berharga di rumahnya. Sudah 4 malam ia terpaksa tidur di atas bangku bambu beralaskan kasur di teras rumahnya.


Sementara istri dan kedua anaknya ia ungsikan ke rumah orang tuanya yang tak terdampak banjir. Anak dan istrinya hanya kembali ke rumah pada siang hari.

"Saya tidak menungsi alasannya yaitu khawatir air meninggi. Kalau banjir tambah parah, saya khawatir barang-barang di rumah saya hanyut," kata Supi'i dikala berbincang dengan detikcom, Senin (6/5/2019).

Tidur di kawasan terbuka di tengah kepungan banjir tentu bukan hal yang nyaman bagi siapapun, termasuk Supi'i. Bapak dua anak ini mengaku kedinginan dan dikerubuti nyamuk sepanjang malam.

"Kaki saya sudah gatal-gatal alasannya yaitu setiap hari acara di tengah banjir. Sudah diberi dukungan salep," ujarnya.

Bahkan, lanjut Supi'i, banjir membuatnya tak sanggup mencari nafkah. Untuk makan sehari-hari, ia bersama anak dan istrinya hanya mengandalkan kiriman masakan dari dapur umum yang dibentuk Pemkab Mojokerto. Itu pun kiriman masakan kadang tiba hanya 2 kali dalam sehari.


"Saya kerjanya mencari rongsokan (pemulung). Sepeda motor Suzuki Shogun yang biasa saya pakai kerja, mogok alasannya yaitu kena banjir," ungkapnya.

Penderitaan akhir kepungan banjir juga dirasakan Junaidi (31), warga Dusun Tempuran. Menurut dia, banjir sudah merendam kampungnya semenjak Kamis (2/5) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.

Selain mencicipi gatal-gatal di kaki, bapak dua anak ini juga mengeluh kesulitan BAB, mandi dan tidur. "Kamar mandi penuh air banjir sehingga mandi dan BAB tidak bisa, terpaksa ke rumah saudara. Kalau tidur mengungsi ke rumah orang tua. Karena kamar tidur banyak nyamuk dan masbodoh alasannya yaitu di tengah banjir," terangnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Didik Chusnul Yakin menjelaskan, banjir selama 5 hari di Desa Tempuran mengakibatkan puluhan warga terjangkit beberapa jenis penyakit. Mereka telah mendapat perawatan medis di Posko Kesehatan Bencana Banjir, Dusun Tempuran.

Dia merinci, terdapat 30 korban banjir yang menderita gatal-gatal, 24 orang mengeluh capek-capek, 12 orang mengalami ISPA, 6 orang kepala pusing, 2 orang mengalami diare, serta 3 orang menderita gastritis.

"Ada juga yang mengalami luka ringan dan hipertensi masing-masing satu orang. Keluhan apapun kami tangani di posko kesehatan," tegasnya.

Data dari Posko BPBD Kabupaten Mojokerto menunjukkan, terdapat 304 rumah di Dusun Tempuran dan Bekucuk yang hingga siang ini terendam banjir. Rata-rata ketinggian air yang merendam permukiman warga 30-40 cm. Banjir ini berdampak terhadap 1.207 jiwa. Sebagian dari mereka menentukan mengungsi ke rumah keluarga masing-masing.

Sumber detik.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel