Di Depan Mahkamah Netizen
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)Jakarta -Netizen, siapa kau -siapa dia, siapakah mereka?
Kami duduk di dua dingklik panjang yang berhadapan, berseberangan meja di The People's Cafe di Pasaraya Blok M pada suatu sore tanggal merah, menyeruput kopi, menikmati es goyobot, nyemil jamur goreng dalam suasana santai tapi serius oleh pertanyaan yang kami lontarkan dalam dialog untuk dibahas bersama. Makhluk apakah netizen itu? Di mana sehari-hari mereka berada, menjalani kehidupan macam apa, dengan pergaulan sosial yang bagaimana?
Kami berdiskusi sambil tertawa-tawa. Membayangkan mereka, membuat analisis-analisis untuk berusaha memahaminya, mencoba-coba merumuskannya dalam satu kalimat ringkas yang memudahkan kami untuk bersama-sama mengimajinasikannya, dan menerimanya dengan kebulatan gambaran, pandangan, dan gagasan. Satu per satu kami melontarkan pendapat, bertukar pikiran, dan saling menyahuti untuk menambah dan melengkapi.
Tentu saja, sebelumnya kami sudah sering mendengar ungkapan yang populer, berbunyi "netizen yang maha benar", sebuah frasa yang bernada "menyindir" dan "mengejek". Faktanya, atau makna "sebenarnya", ungkapan itu lebih ingin menyampaikan bahwa netizen, siapapun beliau atau mereka, yaitu orang atau sekelompok orang yang "tak bisa salah" dalam konotasinya yang negatif. Namun, kami gres benar-benar memikirkan subjek dengan sebutan "netizen" itu sehabis sahabat kami menjadi viral gara-gara kamar kosnya itu.
Kami sudah usang mengenalnya, dan tentu saja ikut gembira bahwa sahabat kami kesannya menjadi "seleb" di dunia digital, walaupun bersama-sama ia bukanlah orang yang asing-asing amat di ranah jagad media sosial. Tulisan-tulisan review filmnya selalu viral. Ia bersama-sama seorang lulusan sekolah film yang tengah merintis karier dengan memproduksi film-film pendek dan webseries. Ia juga selalu mempromosikan karya-karyanya itu, yang telah merambah banyak sekali pekan raya dan ajang pemutaran film.
Tapi, foto kamar kosnyalah yang kemudian justru mengantarkannya menjadi sumber kehebohan. Sebagai sahabat yang mengenalnya semenjak lama, sekali lagi, tentu kami ikut bangga. Salah satu di antara kami semenjak awal eksklusif menasihatinya, "Tetap humble ya, Can!" Saya pun tak ketinggalan, menyarankannya untuk segera membuka jasa dekorasi dan renovasi kamar kos, sebagaimana Marie Kondo membuka jasa beres-beres rumah, dan kemudian terkenal diseluruh dunia --bukunya laris, punya tayangan di Netflix.
Maka, sebelum ketenarannya makin tak terbendung, kami pun berinisiatif untuk mengajaknya bertemu. Semacam jumpa fans. Kami ingin tahu, apa yang dirasakannya sehabis popularitasnya melambung tinggi. Bagaimana rasanya dibicarakan, dikomentari, dinilai, dan disalahpahami oleh orang-orang yang tidak beliau kenal di media sosial, dan menjadi isu di media massa. Selama beberapa hari, selalu ada media atau akun medsos terkenal yang memberitakannya, dan komentar diikuti perdebatan pun semakin meluas. Ia bahkan hingga menolak seruan sebuah media yang ingin mendatangi secara eksklusif kamar kosnya.
Seandainya para netizen itu tahu, dan mau berusaha sedikit saja mencari informasi. Candra Aditya bukanlah anak orang kaya atau golongan dari mereka yang punya privilege, menyerupai mereka "dituduhkan" dengan riuh rendah, dengan komentar-komentar penuh prasangka yang sangat dangkal dan menyedihkan. Intinya, hampir semua yang komentar menyatakan: kamu anak orang kaya, banyak duit, mau ngapain aja bisa. Mau lihat salah satu komen, semoga tahu bagaimana mereka contohnya menyimpulkan hal itu? "Lihat rak sepatunya bisa disimpulkan anak orang kaya kok." Bahkan, ada yang menyimpulkan hanya dari namanya --"Namanya saja Candra Aditya, niscaya anak orang kaya!". HA HA HA.
Ada pula komentar yang bernada stereotip, semisal "Kuliahnya desain interior nih!" Yang jelas, nyaris tidak ada satu pun komentar yang melihat (foto) kamar itu sebagai hasil dari sebuah kreativitas, atau sesuatu yang diusahakan. Tentu saja, semua itu memang perlu biaya. Dan, Candra bersama-sama sudah menjelaskannya dalam sebuah "utas" bahwa kamar --yang disebut oleh judul sebuah isu dengan ungkapan "super nyaman" itu-- tidak turun begitu saja dari langit eksklusif menjadi menyerupai itu, bukan simsalabim. Dia merancangnya sangat usang --ada proses, ada tahapan-tahapan. Dengan kata lain, menyerupai diungkapkan oleh Candra sendiri, beliau mencicilnya sedikit demi sedikit.
Sejak di kamar kos lamanya --yang selalu kebanjiran, dan itulah sebabnya ia kemudian pindah-- dulu Candra sudah kreatif menghiasinya dengan bola-bola lampu layaknya diskotik, dan poster-poster film yang dibingkai --yang tampak memberi perbedaan dan sentuhan yang memang sangat keren itu. Di kamar kos barunya itu, yang benar-benar gres hanyalah daerah tidur yang dibentuk melekat di dinding, dengan ketinggian tertentu, sehingga kepingan bawahnya merupakan ruang kosong yang bisa dimanfaatkan. Tempat tidur itu dirancang dengan "bantuan" dari penjual online, sesuai bujet yang ada. Ditambah pot-pot tanaman, rak penuh buku, dan sepatu-sepatu yang dirapikan di rak khusus, maka jadilah kamar yang kemudian penampakannya viral itu.
Dengan menjelaskan (kembali) semua itu, saya tidak sedang membelanya. Pun, jikalau saya katakan, bahwa bersama-sama sama sekali tidak ada "kemewahan" pada kamar itu --sebagaimana yang ditangkap oleh netizen dan itulah salah satu pangkal berdebatannya-- saya bukannya tidak mengapresiasi hasil jerih payahnya. Saya hanya ingin menawarkan bahwa seandainya mereka, ya netizen itu, tahu siapa Candra Aditya, mestinya mereka malu.
Kami teman-teman dekatnya kenal betul Candra, yang tiba dari Malang, Jawa Timur oleh dorongan besar lengan berkuasa obsesinya yang luar biasa untuk menjadi filmmaker. Segala keterbatasan tak menghalangi cita-citanya. Lulus STM, ia menjadi mahasiswa generasi pertama sekolah film yang kala itu gres saja dibuka di Binus International School, Jakarta tanpa biaya sepeser pun, lantaran ia mendapatkan beasiswa penuh.
Jika capres Sandiaga Uno mengaku bahwa dulu dikirim ayahnya ke Amerika tanpa dibekali tiket pulang, maka Candra bahkan pergi ke Jakarta tanpa kepastian bagaimana nanti tinggal dan hidup di sana. Dan, ia membuktikan, bisa menghidupi dirinya tanpa kiriman uang dari orangtuanya. Dia bekerja, menjadi penulis lepas di mana-mana, dan banyak sekali perjuangan lainnya.
Bagi saya, apa yang dilakukan Candra dengan "memamerkan" hasil renovasi kamar kosnya itu --"Gue udah nyangka bakalan rame, tapi gue nggak nyangka bakal serame itu"-- tanpa beliau sadari yaitu sebuah "eksperimen sosial" yang brilian, yang dengan telak berhasil menguak realitas kelam, siapa itu kaum netizen, yang selalu ingin komentar, dengan energi yang negatif, berusaha keras untuk kontra terhadap apapun, melihat segala sesuatu dengan sudut pandang dangkal, malas, dan ya, apalagi kalau bukan bodoh.
Ini bukan soal perspektif. Jangan latah pula untuk mengait-ngaitkannya dengan "post-truth". Ini soal jiwa yang telah kalah oleh teknologi. Bagaimana smartphone membuat sebagian orang menjadi tidak smart sama sekali, dan terpuruk ke titik terendah. Bagaimana gadget membuat jempol-jempol menjadi jauh lebih terampil dan terdepan dibanding otak. Atau, kalau kita mengikuti pemikir Nassim Nicholas Taleb, ini soal perbudakan oleh teknologi. Menurut Taleb, teknologi bisa merusak (dan membahayakan) tiap aspek kehidupan orang kolot sambil meyakinkan beliau bahwa kehidupannya jadi lebih efisien.
Yang tragis adalah, beda antara teknologi dan perbudakan: budak sadar mereka tidak merdeka.
Dengan teknologi gadget yang memudahkan hampir semua aspek kehidupan dan menjadikannya terangkum dalam satu genggaman tangan, kebanyakan orang tidak sadar bahwa dirinya kemudian justru menjadi tidak merdeka. Mereka tak mau lagi berpikir. Semua diserahkan pada teriakan "spontan". Pokoknya harus bersuara dulu, nimbrung, ikut arus, hadir --berpikir bukan hanya belakangan, tapi sudah tidak dibutuhkan lagi.
Maka, kita bersama-sama tidak perlu heran --atau bersama-sama selama ini kita memang hanya berpura-pura terheran-heran?-- mengapa banyak orang-orang terdidik yang begitu gampang memamah hoax, dan lebih banyak lagi "kaum emak-emak" yang tergoda isu bohong, dan dengan riang gembira ikut menyebarkannya, dengan sepenuh keyakinan. Tidak dibutuhkan teori apapun untuk memaknai fenomena ini. Kata Taleb: untuk membuat "bangkrut" orang yang bodoh, beri saja beliau informasi!
Ketika seorang sutradara terkenal nge-tweet sesuatu wacana politik, maka seorang netizen akan dengan entengnya menyahut: lagi nggak ada job ya? Padahal sutradara yang beliau ledek itu justru sedang jaya-jayanya, hampir setiap hari mempromosikan trailer film terbarunya dan rajin meng-update proyek-proyek beliau berikutnya yang sudah menunggu. Bagi si netizen, informasi tidak pernah berarti apa-apa. Sebagian netizen telah menentukan untuk menjadi katak yang membuat semesta di bawah tempurungnya, membangun kenyamannya dalam dunianya sendiri.
Maka, sekali seorang pemimpin dibilang oleh lawan-lawan politiknya sebagai "antek asing", "keturunan PKI", dan banyak sekali label "seram" lainnya, informasi lain apapun yang tiba belakangan untuk membantahnya tidak akan pernah "masuk" ke mereka. Bahkan dikala ada yang bilang, entah siapa tidak pernah jelas, bahwa jikalau capres tertentu menang maka azan akan dihentikan di Indonesia, mereka pun menelannya bulat-bulat begitu saja, betapa pun tak masuk akalnya "informasi" itu.
Di depan mahkamah netizen, nalar membeku --apapun yang tidak ingin mereka percayai, lantaran tidak seusai dengan kepentingannya, bertentangan dengan hasrat-hasratnya yang paling tersembunyi, menjadi "mentah" dan "mental". Informasi tak bicara apa-apa. Pengetahuan tidak dipercaya. Kehidupan hilang maknanya.
Jadi, siapakah kamu, netizen?
Mumu Aloha wartawan, penulis, editor
Tulisan ini yaitu kiriman dari pembaca detik, isi dari goresan pena di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat goresan pena kau sendiri? Klik di sini sekarang!
Sumber detik.com